BEKASI || Berita Jurnal Kota
Kekeringan mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat di Kabupaten Bekasi. Hingga Senin (10/8/2026), sebanyak 11 kecamatan yang mencakup sekitar 39 desa dilaporkan terdampak kekurangan air bersih akibat musim kemarau.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Bekasi. Selain mengganggu kebutuhan air bersih masyarakat, kekeringan juga telah berdampak pada sektor pertanian dengan luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 3.000 hektare.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, Muchlis, mengatakan pemerintah bersama berbagai unsur terus melakukan upaya penanganan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
“Untuk Kabupaten Bekasi sendiri sampai dengan hari kemarin sudah 11 kecamatan yang terdampak. Dari 11 kecamatan itu kurang lebih 39 desa dan ini cukup mengganggu kehidupan karena yang terdampak adalah kekurangan air bersih,” ujar Muchlis saat menyampaikan amanat pada Apel Pagi bagi seluruh ASN di Plaza Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, hingga saat ini sekitar 4,5 juta liter air bersih telah didistribusikan kepada masyarakat terdampak. Penyaluran tidak hanya dilakukan oleh BPBD, tetapi melibatkan TNI-Polri, PMI, PDAM, hingga sejumlah pelaku usaha yang berada di kawasan industri.
Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga agar masyarakat di wilayah terdampak tetap memperoleh akses air bersih di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung.
Namun, Muchlis mengingatkan bahwa masyarakat perlu bersiap menghadapi kondisi kekeringan yang masih berpotensi berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Berdasarkan perkiraan BMKG yang disampaikan dalam apel tersebut, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober. Sementara itu, fenomena El Nino juga disebut berpotensi memberikan pengaruh hingga awal 2027.
“Sekarang ini kita belum sampai di puncaknya,” tutupnya.
( Betti Tambunan)















































