Beritajurnalkota || Kuala Tungkal
Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat) menunjukkan keseriusannya dalam memacu pertumbuhan ekonomi daerah dengan menggandeng kalangan akademisi. Hal ini ditandai melalui Forum Ekspose dan Analisis Ekonomi Kabupaten Tanjung Jabung Barat dari Perspektif Akademik bersama para profesor Universitas Jambi (UNJA), yang digelar di Ruang Rapat Lantai III Bapperida Tanjab Barat, Rabu (21/1/2026).
Forum strategis tersebut dibuka langsung oleh Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag., sebagai upaya memperkuat kebijakan pembangunan daerah yang berbasis kajian ilmiah dan evidence based policy.
Kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah, para asisten, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), para camat se-Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dosen dan mahasiswa IAI An-Nadwah Kuala Tungkal, serta sejumlah profesor dan akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNJA yang tergabung dalam Tim Ekonomi.
Dalam sambutannya, Bupati Anwar Sadat menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi merupakan kebutuhan mendesak, khususnya di tengah tantangan efisiensi anggaran serta tuntutan pembangunan yang harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Setiap kebijakan dan program pemerintah harus berbasis ilmu pengetahuan dan kajian akademik. Tanpa dasar itu, kebijakan berisiko tidak tepat sasaran dan tidak memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat,” tegas Bupati.
Menurutnya, forum ini menjadi momentum penting dalam merumuskan arah pembangunan Kabupaten Tanjung Jabung Barat periode 2026–2030, sekaligus menjadi landasan dalam penyusunan APBD murni maupun APBD Perubahan agar lebih terarah, tematik, dan berkelanjutan.
Sejumlah isu strategis menjadi fokus pembahasan, di antaranya penurunan angka stunting, pengentasan kemiskinan, peningkatan pendapatan masyarakat, serta optimalisasi sektor unggulan seperti pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Bupati menilai posisi Tanjung Jabung Barat sangat strategis sebagai jalur distribusi hasil bumi, baik di tingkat regional maupun internasional.
“Selama ini kita lebih banyak menjadi daerah lintasan. Ke depan, potensi lahan dan hasil produksi lokal harus dimaksimalkan agar nilai tambah ekonomi benar-benar dirasakan oleh masyarakat Tanjung Jabung Barat,” ujarnya.
Forum tersebut juga menekankan pentingnya konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) agar pertumbuhan ekonomi tidak bersifat sesaat, melainkan mampu memberikan efek jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah daerah berharap rekomendasi akademik dari para profesor UNJA dapat memperkuat argumentasi dalam pembahasan anggaran bersama DPRD maupun pemerintah pusat.
“Dengan dasar ilmiah yang kuat, kebijakan dan anggaran yang kita usulkan akan lebih terukur, efektif, dan memiliki legitimasi yang kuat,” tambah Bupati.
Sementara itu, Prof. Dr. Drs. Zulgani, M.P., dalam paparannya menyampaikan bahwa Kabupaten Tanjung Jabung Barat memiliki potensi besar sekaligus tantangan pembangunan yang kompleks. Ia menegaskan bahwa peran perguruan tinggi tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus hadir langsung menjawab persoalan daerah.
Ia mengidentifikasi tiga tantangan utama pembangunan daerah, yakni lingkungan, ekonomi, dan teknologi. Dari sisi lingkungan, tantangan meliputi deforestasi, pencemaran wilayah pesisir, serta emisi karbon akibat alih fungsi lahan. Dari aspek ekonomi, struktur perekonomian masih didominasi sektor primer dengan keterbatasan infrastruktur dan akses pasar. Sementara di bidang teknologi, masih terdapat kesenjangan serta rendahnya literasi digital.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Zulgani mendorong integrasi ekonomi hijau, digitalisasi, dan pembangunan berkelanjutan. Sejumlah program ekonomi hijau diusulkan, antara lain rehabilitasi mangrove, pemanfaatan energi terbarukan, pengembangan ekowisata, serta penguatan bank sampah dengan dukungan pendanaan dari APBD, APBN, investasi swasta, green bonds, dan CSR.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai rujukan utama dalam penyusunan APBD. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan penurunan kemiskinan dan pengangguran agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata.
“Tantangan terbesar Tanjung Jabung Barat adalah menurunkan kemiskinan dan pengangguran di tengah keterbatasan fiskal. Karena itu, pertumbuhan ekonomi harus bersifat inklusif dan tepat sasaran,” jelasnya.
Senada dengan itu, Prof. Dr. Johanes Simatupang, S.E., M.Si., menyoroti pentingnya pendekatan mikro dalam pembangunan daerah, khususnya melalui pengelolaan wisata mangrove Pangkal Babu. Ia menilai kawasan tersebut memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis alam, namun masih menghadapi tantangan lingkungan dan lemahnya sinkronisasi kebijakan.
Menurutnya, kawasan Pangkal Babu telah memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah meskipun masih terbatas. Namun, kawasan ini rentan terdampak pasang laut yang merusak infrastruktur, sehingga memerlukan desain pembangunan yang adaptif dan ramah lingkungan.
Ia juga menyoroti rendahnya nilai tambah ekonomi akibat minimnya hilirisasi, sehingga banyak komoditas lokal dijual dalam bentuk mentah dan keuntungan justru dinikmati daerah lain. Selain itu, potensi tumpang tindih kewenangan dan perizinan dinilai perlu segera dibenahi melalui sinkronisasi regulasi dan sistem perizinan terpadu.
Sebagai rekomendasi, Tim Ekonomi FEB UNJA mendorong perencanaan pembangunan berbasis isu lokal, penguatan peran komunitas, pendidikan konservasi mangrove, serta aksi pembangunan yang implementatif dan realistis.
“Kuncinya adalah implementasi, bukan sekadar perencanaan di atas kertas. Libatkan komunitas lokal agar pembangunan benar-benar berkelanjutan,” pungkasnya.
Melalui forum ini, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat optimistis kolaborasi dengan perguruan tinggi mampu melahirkan kebijakan pembangunan yang berbasis data, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
(RED)














































