BJK || ACEH
Institut Teknologi Sumatera (Itera) menunjukkan komitmennya dalam mendukung pemulihan pascabencana di Provinsi Aceh. Melalui Tim Teknik Geofisika, Itera terjun langsung melakukan pemetaan sumber air bersih di wilayah terdampak banjir di sejumlah daerah di Aceh.
Kegiatan ini dipimpin oleh Dosen Teknik Geofisika Itera, Rizka, S.T., M.T., bersama dua mahasiswa, Jhon Erik Natanel Hutabarat dan Yarra Rizky Zebua. Dengan memanfaatkan teknologi Audio Frequency Magnetotelluric (ADMT), tim berhasil mendeteksi sekitar 50 titik potensial untuk pembangunan sumur bor air bersih di lokasi terdampak bencana.

Program ini merupakan bagian dari gerakan kemanusiaan “Lampung untuk Sumatera Bangkit” dalam rangkaian Sumatera Pulih, yang dilaksanakan pada 16–24 Januari 2026. Dalam pelaksanaannya, tim Itera berkolaborasi dengan Forum Rescue Relawan Lampung yang mewakili Pemerintah Provinsi Lampung dalam misi kemanusiaan lintas daerah.
Dosen Teknik Geofisika Itera, Rizka menyampaikan, keterlibatan mereka merupakan wujud nyata peran Itera dalam pengabdian kepada masyarakat, di Lokasi terdampak bencana Sumatra, sekaligus penerapan keilmuan geofisika di lapangan.
Adapun wilayah yang menjadi sasaran pemetaan meliputi sejumlah desa di Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Tamiang, antara lain Desa Purwodadi, Kampung Jawa, Desa Harum Manis, Desa Tanjung Mancang, Desa Timbang Langka, Desa Bandar Khalifah, serta Desa Sukamaju (Tenggulu).
Melalui pemetaan geofisika, tim berupaya memastikan titik bor yang direkomendasikan mampu menyediakan air bersih dengan kualitas dan kuantitas yang layak bagi masyarakat, meskipun akses ke beberapa lokasi cukup terbatas.
Dalam pemetaan sumber air bersih tersebut, Rizka mengungkapkan berbagai tantangan, khususnya di Kabupaten Aceh Tamiang yang memiliki kondisi geologi kompleks dan merupakan daerah penghasil minyak. Kondisi ini kerap menyebabkan masyarakat gagal melakukan pengeboran karena keluar minyak atau air dengan kualitas buruk. Bahkan, di beberapa lokasi, sumur yang berhasil dibangun hanya menghasilkan debit air kecil dan belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Namun, dengan bantuan teknologi ADMT yang dibawa oleh tim Itera, titik-titik potensial sumber air berkualitas berhasil diidentifikasi. Dengan bantuan alat ADMT Tim berhasil melakukan deteksi sekitar 50 titik potensial pembangunan sumur bor air bersih. “Metode ini memiliki keunggulan meminimalkan risiko kegagalan pengeboran sumur yang selama ini kerap terjadi di wilayah pengeboran,” ujar Rizka.
Dosen Teknik Geofisika Itera, Rizka, menyampaikan proses pemilihan titik bor air dilakukan secara cermat karena kondisi geologi Kabupaten Aceh Tamiang yang merupakan penghasil minyak dan kondisi banjir turut menjadi tantangan. “Melalui pemetaan geofisika, tim berupaya memastikan titik bor yang direkomendasikan mampu menyediakan air bersih dengan kualitas dan kuantitas yang layak bagi masyarakat, meskipun akses ke beberapa lokasi cukup terbatas,” ujar Rizka.
Melalui kontribusi ini, Itera menegaskan komitmennya dalam mendukung pemulihan wilayah terdampak bencana, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas relawan dalam pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. (Humas/Herlan)




















































